tri-rismahariniPDI-P Jawa Timur menyatakan berat untuk kembali mencalonkan Risma sebagai calon wali kota Surabaya periode 2015-2020. Alasan DPD PDI-P Jatim, Risma tak mengindahkan perintah DPP PDI-P.

Risma dinilai tidak menjalankan perintah DPW PDI-P hingga kini untuk menjalin komunikasi tiga pihak dalam menjalankan pemerintahan, yakni pihak eksekutif partai dalam hal ini DPC PDI-P, anggota legislatif dari PDI-P, dan wakil wali kota.

“Perintah selalu berkoordinasi tripartid itu tidak pernah dijalankan wali kota yang diusung PDI-P. Artinya, ya berat jika akan mencalonkannya kembali dalam Pilwali 2015 mendatang,” kata Bambang DH, Wakil Ketua DPD PDI-P Jawa Timur, di DPRD Surabaya, Selasa (2/9/2014).

Menurut Bambang DH, PDI-P tidak akan tergantung kepada Risma. Bahkan, jika Risma ingin mundur dari PDI-P maka pintu terbuka lebar. Hanya saja, PDI-P akan bersikap profesional dengan tidak akan menghentikan masa bakti Wali Kota Surabaya sebelum habis.

Dengan demikian, setelah nanti masa baktinya berakhir, Tri Rismaharini dipersilakan diusung oleh partai lain untuk menjadi cawali 2015-2020.

“Yang jelas, PDI-P besar kemungkinan akan mengusung cawali dan cawawali dari kader sendiri,” tutur Bambang DH.

Bambang DH meyakini, saat ini banyak kader internal PDI-P yang dinilai cukup layak dan mumpuni untuk diusung menjadi calon wali kota dan calon wakil wali kota Surabaya dalam Pilwalkot 2015. Di antaranya Ketua DPC PDI-P Surabaya Whisnu Sakti Buana yang memiliki tingkat keterpilihan cukup tinggi.

“Itu yang terjadi, tapi semuanya nanti terserah dari keputusan Ketua Umum DPP PDI-P yang selalu mendengarkan suara dari bawah,” ucap Bambang DH seusai memberi pembekalan kepada 15 anggota FPDI-P DPRD Surabaya.

Bambang DH menyatakan, PDI-P akan menggelar survei sebelum menentukan nama-nama yang bakal diusung dalam Pilwalkot Surabaya 2015. Sebelum memasuki tahapan tersebut, terlebih dahulu akan dibuka pendaftaran secara terbuka.

Sumber: Kompas