Saya lho tahun lalu tiba-tiba, dapat curhatan begini, “Aku ngenes, mas. Tahun ini saya justru rugi banyak. Padahal 2-3 tahun lalu barang-barang saya laris manis, bahkan sempet saya tambah masih laris saja sampai ludes (laku keras).”

“Kali ini saya berpikirnyapun begitu, stok barang saya banyakin mas. Supaya saya dapat omzet tiga kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya, tapi hingga lebaran habis, yang laku cuman enggak sampe 5% mas. Sudah terlanjur hutang banyak buat modal, ” memelas

“Lho apa abang sudah jual via online?” tanya saya penasaran.

“Sejak setahun yang lalu mas, tapi ya gitu tu. Justru via online musuhnya marketplace-marketplace besar. Mereka main harga mas, ngedropnya lumayan. Aku justru enggak bisa bersaing… ”

“Kalau begini terus, sudah pasti lebaran tahun depan kukut (bangkrut)…” sambil ngelus dada.

Kasus bang Charlie ini sebenarnya sudah menular ke banyak pelaku bisnis kecil-kecilan di Indonesia. Sebenarnya ada faktor yang membuatnya demikian, tapi menurut saya faktor terbesar adalah mereka masih menggunakan bisnis secara tradisional. Meskipun menggunakan pemasaran online sekalipun, caranya masih manual.

Dunia bisnis sudah berubah total. Kini saatnya membangun Sistem Otomatisasi Pemasaran Digital. Artinya dengan dengan menggunakan teknologi otomatisasi, kita bisa memiliki informasi detail kemauan pasar itu seperti apa. Bahkan kebutuhan yang paling tersembunyi bisa kita ketahui.

Sayangnya anggapan para UKM Sistem Otomatisasi Pemasaran Digital adalah MAHAL. Eh, siapa bilang ya?

Sistem Otomatisasi Pemasaran Digital itu murah banget. Bahkan lebih murah dibandingkan Anda menyewa lapak di Mangga Dua.

Kok bisa ya?

Anda tahu kenapa?